Senyum Lega itu

Jakarta menjelang tengah malam.

Akhirnya terbebas dari kemacetan adalah hadiah terindah. Subhanallah. Satu harapan berikutnya adalah sesegera mungkin menjejakkan kaki di rumah. Melepas penat.

Tinggal sekali naik ojeg, itu artinya tinggal beberapa menit lagi bertemu dengan keluarga tercinta. Aaaaahhhh! sudah sedekat inipun masih tertunda beberapa menit,  karena Jakarta masih enggan mengulurkan macetnya.

Di pangkalan ojeg, tinggal Pak Ojeg tua dengan motor tuanya yang terlihat mengkhawatirkan. Tapi…ya sudahlah. Kelelahan yang sangat ini tak mau berkompromi mencari alternatif lain.     ” Jl Reporter ya Pak”..                                     ” Kasih tahu ya neng, Bapak belum pernah ke sana”….

Dengan kecepatan rendah ia mengendarai motornya, sangat hati hati. Jika ada yang menyalip atau ada kendaraan lain dari arah yang berlawanan dengan kecepatan yang lebih tinggi, maka motor ini agar limbung. Astaghfirullah

Saya terus berdoa untuk keselamatan kami. Waktu tempuh yang dua kali lipat lebih lama dari biasanya itu , saya rasakan 4 kali lebih lebih lama.   Duuh !!

Alhamdulillah sampai juga di depan pintu pagar dengan selamat. Seraya mengucapkan terimakasih segera kuulurkan sejumlah nominal yang lebih dari biasanya. Sengaja,  karena sudah larut malam dan mengingat hanya dia lah ojeg satu satunya yang tersisa.              “Bapak ga ada kembalian neng..”          “Ga usah Pak…”                                               kataku tanpa menoleh dan langsung masuk ke rumah…

Saatnya beristirahat ..

Sekitar sebulan kemudian. Menjelang tengah malam. Sebentar lagi ojeg yang kutumpangi akan membelah jalan. Sesaat kulihat ia menengok ke kiri dan kanan bersiap menembus arus lalu lintas.  Bismillah

Tak  sengaja menoleh kebelakang. Kulihat sosok yang tergopoh gopoh berlari mengejar kami.  Sambil melambaikan tangan dan mengibaskan sesuatu yang tertutup kegelapan malam. “Neng…maap baru sekarang bapak kasih uang kembalian neng…”                   katanya terengah tengah menghampiriku.

 Sungguh, saya sudah lupa tentang sosok tua tersebut dan hal yang ia sampaikan. Berusaha mengingat cepat saya menukas ” Oh iya…ga usah pak..”  malas rasanya berpanjang panjang kata.

“Ambil neng, Bapak  kan waktu itu bilanya ndak ada kembalian, sekarang udah ada, maap ya neng kelamaan..”

……….

Sosok itu adalah Pak tua ojeg pangkalan, yang mengendarai motor tuanya dengan cara yang mengkhawatirkan, pengalaman tak berkesan yang langsung ku hapus  dari ingatanku.  Sebelum berlalu, ia melepaskan senyum penuh kelegaan. membuat lengkung senyum haru ku bertabrakan dengan mata sepuhnya yang sudah sulit melihat dengan jelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close