Benteng Nassau Banda Naira_Catatan Suram

Datanglah ke Benteng Nassau di siang hari. Beberapa gembala sapi dan kambing terlihat asik bermain bola atau mengobrol di bawah pohon rindang yang tumbuh di bagian pinggir dalam benteng. Membiarkan hewan gembala mereka yang asik merumput tanpa terusik apapun. Seperti itu yang terjadi setiap hari, hingga senja menjelang.

Di sekeliling benteng, terdapat parit yang tampak mengering airnya. Di sinipun terlihat ternak yang sedang memamah rumput. Semua tampak hijau, tenang dan membisu. Benarkah seperti itu ?

Desir angin senja yang mulai menusuk tulang membawa kita ke beberapa abad lalu. Tentang catatan sejarah bertinta merah darah yang terjadi di Benteng Nassau.

Di depan Benteng Nassau ini, pada tanggal 8 May 1621, sebanyak 42 orang kaya Banda di sepenggal kepalanya oleh algojo sewaan yang di datangkan dari Negeri Jepang, dengan samurai lalu dimutilasi menjadi 4 atau 5 bagian. Kepala-kepala yang dipenggal tersebut, kemudian di tancapkan ke atas bambu dan di gantung di areal Benteng tersebut. Untuk disaksikan oleh keluarga serta masyarakat Banda lainnya. Untuk akhirnya di buang di sebuah sumur yang letaknya berdekatan dengan benteng tersebut.

Di dekat sumur tersebut, terdapat prasasti yang menuliskan 44 nama orang kaya Banda yang rencananya akan dibantai, namun 2 orang di antaranya berhasil melarikan diri yaitu Makatitatta dan Wattimena.

Disaksikan oleh keluarga dan masyarakat umum, pembantaian sadis tersebut dilakukan oleh 6 algojo sewaan dari Jepang, atas instruksi Gubernur Jenderal VOC Jan Peterzoon Coen. Lukisan tentang peristiwa tersebut dapat kita lihat di Museum Budaya Banda Neira.

Dapatkah kita bayangkan trauma yang dirasakan oleh siapapun yang menyaksikan peristiwa tersebut, terutama keluarganya?

Dibandingkan benteng_benteng lainnya di seantero kepulauan Banda Neira, inilah benteng _yang terkenal juga dengan nama Benteng Pastel Beneden- yang suasananya terasa mencekam, pun sampai saat ini.

Dibangun pertama kali oleh bangsa Portugis yang menjejakkan kekuasaannya di Banda Neira. Kemudian diteruskan oleh Admiral Verhoven pada awal kedatangan VOC di Banda Neira yaitu pada periode 1607 – 1609, tapi tidak tuntas, karena Verhoven dibantai oleh orang Banda di depan mata Jan Peterzoon Coen (JP Coen) muda.

Diniatkan sebagai balas dendam- atas pembunuhan keji yang dialami Verhoven pada bulan May tahun 1609 sebelumnya- maka 12 tahun kemudian, yaitu pada tanggal 8 May 1621 , JP Coen ‘membayar’ dendam kepada masyarakat Banda, atas pembunuhan Verhoven dengan cara yang lebih sadis, seperti disampaikan di atas.

Jika diteruskan, aksi balas dendam seperti ini, entah kapan akan berakhir.

Dari Benteng Nassau kita dapat melihat Benteng Belgica yang berdiri dengan kokoh dan mempunyai pertalian sejarah dengan Benteng Nassau. Benteng Belgica di bangun di tanah yang lebih tinggi, beberapa meter di atas Benteng Nassau. Kedua benteng dihubungkan dengan tangga bawah tanah yang tersembunyi. Sepertinya perlu nyali untuk melewatinya.

Dimakan usia dan sejarah kelam yang menyertainya, Benteng Nassau kini tak utuh lagi. Bagian depan / pintu masuk benteng -yang menjadi saksi peristiwa 8 May 1621- terlihat masih cukup kokoh berdiri. Walaupun seperti terlupakan, berlumut dan runtuh di beberapa bagian, tapi kita tidak akan bisa melupakan atau meruntuhkan rentetan sejarah yang terjadi di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s