Lonthair_Never Ending Story

Inilah salah satu pulau di kepulauan Banda, yang terkenal dengan perkebunan pala dan kenari. Selain sejarah yang terjaga sampai sekarang.

Dari pantai, kita akan berkeliling Pulau -yang dikenal juga dengan nama Pulau Banda Besar – dengan ojeg. Pertama kali kita akan di antar ke Perigi Keramat, sumur yang dianggap keramat oleh warga Lonthair Khususnya. Beberapa aturan harus kita patuhi, seperti tidak boleh berdiri di atas bibir perigi. Tentang perigi tersebut akan kami tuliskan terpisah.

Setelah itu kita akan mendaki sekitar 5 menit untuk melihat perkebunan pala dan kenari yang sudah ada sejak zaman VOC. Di area kebun kita akan melihat pemakaman yang juga sudah ada sejak jaman dulu.

Di salah satu area makan, ada satu kuburan yang dipercaya warga dapat mengabulkan permintaan peziarah yang sambil membentangkan hari tangannya sepenggal dari dua sisi. Kubur Satu Jengkal dengan nama sebenarnya adalah Kabong Kacong tersebut, jika di ukur dengan jengkal kita dari arah manapun, ukurannya akan tetap sepenggal. Berbagai cerita mistis menyertai keberadaan makam tersebut.

Dari makam kita berjalan sebentar menuju ‘Batu Berdarah’, yaitu prasasti yang di tanda tangani dengan darah oleh perwakilan pihak Belanda dan pemuka masyarakat Lontahir sebagai tanpa perdamaian.

Dilanjutkan dengan ojek, kita menuju rumah Bapak Pongky van den Broecke-keturunan ke-13 Pieter van den Broecke seorang perkenier atau pemilik perkebunan pala dan kenari di Banda pada masa pendudukan Belanda di Banda. Walaupun tidak seluas dahulu, saat ini keturunan beliau masih memiliki lahan perkebunan tersebut di Pulau Lonthair. Pihak keluarga, sampai saat ini masih mempertahankan pola tradisional pengolahan buah pala.

Sebelum kembali ke kapal untuk kembali ke penginapan di Pulau Neira, kita akan mampir sejenak ke Benteng Concordia. Sebuah benteng yang berfungsi sebagai menara pengawas pada masa jayanya perdagangan pala dan rempah lainnya di kepulauan Banda Neira khususnya dan Maluku pada umumnya. Saat ini kondisi Benteng terlihat rapuh dan kurang terawat.

Ada satu lagi benteng di Pulau Lonthair, yaitu Benteng Hollandia. Benteng yang tidak mudah di kunjungi, karena sangat tergantung dengan kondisi pasang surut ombak di sekitar pantai di depan benteng yang berdiri sejak tahun 1642 oleh VOC.

Jikapun perahu kita berhasil mendarat, bersiap siaplah untuk mendaki sekitar 260 anak tangga sebelum sampai ke Benteng Hollandia.

Benteng tersebut pada masanya sangat penting, sebagai menara pengawas perdagangan rempah di Pulau Lonthair dan Pulau Neira.

Kondisi benteng dengan pemandangan indah dari atasnya, semakin rapuh dimakan usia dan kurang terawat.

Masih banyak lagi situs dan cerita sejarah dari Pulau Lonthair, namun kita harus bergegas pulang ke Pulau Neira mengingat kondisi angin barat di perairan Banda yang dapat membahayakan perahu yang kami tumpangi.

Lonthair,never ending story land, tunggu kedatangan kami kembali.

Advertisements

2 thoughts on “Lonthair_Never Ending Story

  1. Hati hati dijalan mba kalau pulang, sampai dengan selamat 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close