Tetap Idealis di Rumah Pengasingan

Jika berkunjung ke Pulau Banda, di kepulauan Banda Neira-Maluku Tengah Propinsi Maluku, sempatkan mampir ke rumah pengasingan 4 (empat) tokoh nasionalis Indonesia yang tetap idealis walaupun diasingkan jauh dari Batavia.

Jangan terlalu siang berkunjung, karena secara umum cuaca di Pulau Banda cukup panas. Antara waktu Sholat Ashar dan Magrib, akan lebih nyaman. Ditemani semilir angin mn laut sekitar Pulau Banda mari kita mendatangi satu persatu, rumah tersebut cukup saling berdekatan dengan berjalan kaki.

1. Rumah Pengasingan Bung Hatta

Rumah tersebut dipugar sejak tahun 1980-1983. Kerjasama antara Yayasan Budaya Banda pimpinan alm Bpk Des Alwi dengan Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Maluku.

Beberapa peninggalan Bung Hatta masih terawat dengan baik. Masih dapat kita lihat perlengkapan sholat, perlengkapan makan, foto foto Bung Hatta serta perlengkapan pribadi seperti kacamata, baju dan setelan jas.

Selama disana, Bung Hatta mengangkat Des Alwi-bocah yang ditemuinya saat turun dari kapal di Pulau Banda- dan beberapa putra Banda menjadi anak angkat.

Selain meneruskan perjuangan untuk Indonesia merdeka, Bung Hatta menyempatkan diri untuk mengajar baca tulis anak anak Banda di ruang belajar yang berada di bagian belakang rumah pengasingan, yang terpisah dari rumah utama. Ruang terbuka yang kursi mejanya masih cukup terawat sampai sekarang.

Sedangkan rumah utama itu sendiri, terdiri dari ruang tamu, saksi sejarah pertemuan beliau dengan tokoh nasionalis lainnya. Di sebelahnya ada ruangan kerja, ruang tidur, ruang makan dan serambi belakang- dimana Bung Hatta bisa menghabiskan waktu berjam jam untuk membaca buku. Pada saat diasingkan, beliau membawa serta 8 koper yang penuh berisi buku.

2. Rumah Pengasingan Sutan Syahrir

Bersama Bung Hatta, Sutan Syahrir pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Boven Digul, sebelum di diasingkan ke Banda Neira, lalu sempat dipindahkan ke Salambintana Sukabumi. Tentang rumah pengasingan Bung Hatta dan Bung Syahrir di Salabintana, akan ditulis tersendiri.

Rumah Pengasingan Bung Syahrir pun sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Beberapa barang pribadi beliau masih dapat kita lihat seperti perlengkapan makan dan foto foto pribadi. Di rumah tersebut Bung Syahrir sering mengadakan pertemuan yang berorientasi nasional sosialis.

3. Rumah Pengasingan dr Cipto Mangunkusumo

Salah satu tokoh Budi Utomo dan pendiri National Indische Partij menempati rumah pengasingan yang cukup besar, sehingga Bung Hatta dan Bung Syahrir sempat tinggal disana, sebelum pihak kolonial menempatkan mereka masing masing di Rumah tersendiri. Beliau tinggal di Rumah Pengasingan tersebut pada tahun 1927

Yang menarik, sebagai ningrat jawa, selama di Banda, beliau tetap menjalankan ritual budaya Jawa, yang kadang kurang dipahami pemerintah kolonial di sana.

4. Rumah Pengasingan Iwa Kusuma Soemantri

Iwa Kusuma Soemantri adalah politikus PNI pengusul judul ‘proklamasi’ pada saat perumusan naskah kemerdekaan. Menjalani pengasingan di Banda Neira pada tahun sekitar tahun 1931-1942.

Saat ini rumah yang terawat dengan baik tersebut dihuni oleh masyarakat setempat. Saat berkunjung, penghuni rumah sedang tidak ada, sehingga kami hanya dapat melihat bagian depan rumah tersebut.

Dengan mengunjungi rumah-rumah pengasingan tersebut , setidaknya akan mengingatkan kita untuk terus menghargai perjuangan mereka mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh sebagai bangsa dan negara.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close