Menikmati Matahari Kembar di Pulau Nusa Laut

Walaupun siang terasa lebih panjang dan lebih terik di Kepulauan Maluku, entah kenapa saya paling antusias berkunjung ke kepulauan tersebut. Setiap tahun, di bulan tertentu -yang mentari siangnya siap memanggang kulit- saya agendakan berkunjung ke sana. Bahkan saya tak peduli walaupun terasa ada matahari kembar membara di ubun-ubun kepala. Beningnya udara kepulauan yang bebas polusi, sungguh satu hal yang saya rindukan.

Jadi, saya dengan senang hati bersiap -siap untuk menyeberang ke Pulau Nusa Laut, walaupun menurut guide, udara akan panas menyengat selama sekitar 2 jam perjalanan laut dan tanpa bantuan pendingin udara. Diharapkan kami sudah berangkat dari hotel di Ambon sekitar pukul 8 pagi WITA, agar tiba di Pelabuhan Tulehu 1 jam kemudian. Lalu segera naik speed boat yang sudah disiapkan. Diperkirakan sebelum jam 12 kita sudah sampai di Pulau Nusa Laut.

GEODEMOGRAFIS

Nusa Laut termasuk pulau terkecil di gugus Kepulauan Lease, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah Propinsi Maluku. Dua Pulau cantik lainnya yang termasuk gugus kepulauan Lease adalah Pulau Haruku dan Pulau Saparua.

Pulau Nusa Laut terdiri dari 7 desa (adat). Dalam keseharian, masyarakat setempat menyebutkan Desa sebagai Negeri yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang mereka hormati dengan sebutan Raja. Demikian juga yang berlaku umumnya di desa-desa lain di Maluku.

Sebelum memutuskan mengunjungi Pulau Nusa Laut, saya berusaha mencari informasi dari teman – teman yang berasal dari propinsi Maluku. Menurut mereka, semua pulau di kepulauan Maluku begitu menarik untuk dikunjungi. Pulau Nusa Laut adalah salah satunya, karena setiap negerinya kaya akan peninggalan sejarah dan keindahan alam. Baik di Negeri Sila, Leinitu, Titawai, Abubu, Akoon, Ameth dan Nalahia.

Tadi di dekat resepsionis hotel, saya sempat melihat peta lokasi Pulau Nusa Laut. Di sebelah utara, pulau tersebut berbatasan dengan Pulau Saparua. Sedangkan di sebelah selatan berbatasan langsung dengan Laut Banda. Di bagian timur berbatasan dengan Pulau Seram serta Pulau Malinau di bagian barat. Tak sabar rasanya untuk segera menjejakkan kaki di sana.

Dari obrolan dengan guide, saya mendapat sedikit gambaran mengenai masyarakat Pulau Nusa Laut. Bahwa seperti juga penduduk Pulau Haruku, masyarakat Pulau Nusa Laut yakin bahwa mereka berasal dari Pulau Seram. Sedangkan secara historis mereka merasa dekat dengan penduduk Pulau Saparua, karena pahlawan wanita kebanggaan mereka Martha Christina Tiahahu bahu membahu dengan Kapitten Pattimura yang berasal dari Pulau Saparua berjuang mengusir penjajah Belanda dari Bumi Maluku.

Hampir semua penduduk Nusa Laut adalah penganut Katholik dan Protestan. Hal ini terkait dengan pendudukan Spanyol, Portugis dan Belanda di pulau kecil yang sangat cantik tersebut yang mempunyai nama lain Hulawcno atau Pulau Emas.

TRANSPORTASI

Sejak di Jakarta, guide sudah beberapa kali mengingatkan kami mengenai tentatifnya jadual kunjungan ke gugusan Kepulauan Lease; termasuk ke Pulau Nusa Laut. Antara lain karena faktor alam yang dapat mempengaruhi jadual penyeberangan dari Pelabuhan Tulehu di Pulau Ambon ke Pulau Nusa Laut (PP). Selain itu karena berbagai pertimbangan, kita tidak menginap di salah satu pulau tersebut. Tapi berangkat dari dan kembali ke Pulau Ambon, setiap hari selama trip berlangsung.

Di hari Minggu yang sangat cerah, jam 9 pagi speed boat berangkat dari Pelabuhan Tulehu, ditemani matahari pagi yang teriknya seperti siang hari. Tapi saya memilih menikmati sinar matahari dengan duduk di bagian atap kapal. Sesekali ombak membuat kapal oleng, sehingga teman-teman meminta saya untuk kembali ke bangku penumpang.

Saya lalu turun ke dekat nahkoda kapal. Menurut beliau, diperkirakan sekitar pukul 11 kita akan tiba di Dermaga Negeri Sila.

Selain kapal cepat, ada juga kapal antar pulau yang beroperasi seminggu dua kali dari Tulehu ke Pulau Nusa Laut, yaitu setiap hari Selasa dan Sabtu.

Nah karena kita berangkat di hari Minggu, pilihannya tinggal naik speed boat.

DESTINASI WISATA

Seperti daerah lain di Propinsi Maluku dan Maluku Utara, Pulau Nusa Laut terkenal karena keindahan alamnya, terutama under water. Selain situs-situs peninggalan sejarah yang menjadi salah satu mata rantai penting dari sejarah panjang nusantara, yang tersebar di hampir semua desa/negeri.

Pantai dan alam bawah lautnya sungguh mengagumkan siapapun yang mengunjungi. Dan membuat penasaran siapapun yang ingin datang ke sana.

Berikut ini sebagian di antaranya.

Namun karena keterbatasan waktu. Maksudnya, karena mau eksplore sejarah, mau juga bersosialisasi dengan penduduk setempat dan berkunjung ke Raja, lalu mau juga eksplore bawah laut, maka di putuskan kita ke salah satu negeri saja yaitu Negeri Sila. Jadi beberapa informasi mengenai negeri lainnya, saya peroleh dari penuturan Raja maupun guide lokal.

SELAMAT DATANG di NEGERI SILA !

Speed boat dengan manis mengantar kita ke dermaga Negeri Sila. Tadi, walaupun terik menyengat sepanjang perjalanan -tapi saya lihat- tak ada satupun dari kita yang mengeluh maupun tidak sabar. Awal yang menyenangkan sekali. Love you guys !

Pantai landai yang sepi dan berair hijau bening langsung menyambut. Namun kita semua tanpa di komando bergegas, sedikit berlari ke arah daratan berpasir putih. Sebuah gapura dengan tulisan : Salib Inilah Lentera Allah, sempat memperlambat langkah sebelum mengantarkan kita masuk ke Negeri Sila.

Di bawah salah satu pohon yang rindang, terlihat sekumpulan bocah sedang asik bermain. Melihat rombongan datang, mereka riuh menyambut kita dengan senyum dan langsung berpose “Kakak..Kakak… foto ”

… jepret – jepret!! Lalu kitapun tertawa bahagia bersama mereka.

Jalan desa di dominasi pasir putih yang semakin cerah ditimpa sinar matahari. Kami mempercepat langkah, mengikuti guide menuju rumah Raja Negeri.

Di kiri kanan jalan merebak harum pala dan cengkeh serta kenari yang sedang di jemur / proses pengeringan yang alami.

Tidak sampai 10 menit, kita sudah sampai di pemukiman penduduk Desa Sila. Memahami bahwa tamunya sebagian besar adalah non nasrani, maka keluarga kepala desa menawarkan kami mie instant pada saat makan siang. Namun guide sudah membekali kami makanan sejak dari Ambon. Mereka juga menyediakan tempat sholat di lokasi lain. Tepo seliro yang mengesankan seperti oase di tengah teriknya mentari.

Saat makan siang dibawah pohon rindang, dihalaman rumah kepala desa, beberapa teman yang tadi memilih snorkling lebih dahulu datang beribadah-basah dan langsung menyantap makan siang. Dengan antusias mereka bercerita tentang indahnya bawah laut sekitar Negeri Sila. Dan saya yang sedang ada masalah kesehatan hanya mendengarkan dengan penuh ‘iri’ sambil berdoa, semoga suatu hari nanti saya akan datang lagi ke Pulau Nusa Laut khususnya ke Negeri Sila untuk bermain air. Aamiin kan untuk saya ya.

Snorkling? sudah. Makan siang? Sudah. Bersosialisasi dengan keluarga raja dan masyarakat sekitar? Juga sudah. Nah, sekarang waktunya kita mengunjungi salah satu gereja tertua di Maluku yang masih ada ya.. yuk

Gereja Eben Haezer

Salah satu yang membuat Negeri Sila sangat termasyur karena di negeri tersebut terdapat gereja tertua kedua di Kepulauan Maluku. Gereja tertua pertama yang masih berdiri adalah gereja Imanuel di Negeri Hila Ambon, pertama kali di bangun pada tahun 1659. Sedangkan Gereja Eben Haezer Negeri Sila dibangun pada periode 1715 – 1719 oleh Raja Louis pimpinan Negeri Sila saat itu.

Untuk beberapa lama, tidak diketahui kapan pertama kali gereja itu di bangun. Sampai pada tahun 1934 ketika sedang di renovasi, ditemukan plakat di salah satu tegel yang tertutup tentang tanggal kepastian pembangunan.

Ya, gereja tersebut beberapa kali mengalami renovasi. Antara lain pada tahun 1934 seperti yang tertulis di menara lonceng gereja dan mimbar khotbah. Setiap renovasi, sedapat mungkin dengan tetap mengusahakan mempertahankan keasliannya. Kecuali atap rumbai yang saat ini berganti dengan seng.

Kondisi gereja saat ini cukup terawat dengan baik dan menjadi tempat ibadah bersama jemaat dari Negeri Sila maupun Negeri Leinitu.

Yang unik dari gereja tersebut -seperti gereja-gereja kuno lainnya di Maluku- dibandingkan gereja di Propinsi lain, adalah terpisahnya tempat duduk raja dari rakyatnya, yaitu ada di bagian paling belakang dan berjarak ( untuk jalan masuk keluar ).

Karena tidak mengetahui hal tersebut sebelumnya, maka pada saat datang saya duduk di bangku bagian belakang tersebut. Kedatangan saya bertepatan dengan usainya jemaat beribadah. Lalu mereka menyalami saya dengan penuh santun dan hormat.

Setelah gereja sepi, saya berkeliling sejenak melihat beberapa bagian dalam gereja yang masih asli seperti bangku dan mimbar serta lantai. Terlalu asik mengagumi situs yang masih berfungsi dengan baik tersebut, hingga tak sadar tinggal saya sendiri di dalam gereja. Tiba-tiba seorang jemaat anak- anak melongok ke dalam gereja dan berkata, ‘ Hai kakak, teman-teman kakak sudah pergi semua, kakak masih (mau) terus liat-liat?’

Tanpa menunggu jawaban, bocah ramah tersebut lantas menunjukkan arah jalan teman teman yang mendahului saya. Selalu seperti ini, ditinggalkan sendiri saat saya terlihat asik menikmati suatu situs atau objek yang menarik habis perhatian saya.

Benteng Beverwijk

Dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, di tengah teriknya ‘matahari kembar’ sampai juga saya di Benteng Beverwijk. Sesekali saya menoleh ke belakang, terlihat bocah ramah tadi belum beranjak. Rupanya sedang memastikan agar saya tidak salah jalan. Ah, sebelum isyarat ucapan terimakasih saya sampaikan, bocah tersebut sudah berlari pergi, begitu saya mendekati Benteng Beverwijk.

Saya memasuki areal benteng bersegi empat dari bagian belakang, melewati kebun pisang, kelapa dan pepaya.

Pintu depan benteng menghadap ke Pantai Sila, yang siang ini begitu indah dan berarus tenang.

Menurut penuturan penjaga benteng, Benteng Beverwijk didirikan oleh Gubernur Jenderal Arnold van de Vlamming von Oushorn pada tahun 1655. Sang Gubernur Jenderal memberikan nama tersebut karena tanah kelahirannya di desa Beverwijk Amsterdam Utara.

Gubernur Jenderal yang sama yang membangun kembali Benteng (Nieuw) Zeelandia di Pulau Haruku yang kemarin sudah kita kunjungi.

Bedanya, benteng di Haruku kondisinya tidak sebaik Benteng Beverwijk. Walaupun kalau kita masuk ke dalam benteng, kondisi benteng Beverwijk juga memerlukan perhatian serius. Mengingat mulai rapuh dipengaruhi faktor usia dan perawatan.

Tujuan awal pendirian benteng tersebut diperuntukkan sebagai benteng penyimpanan rempah- rempah. Mengingat lokasi nya yang strategis di tepi laut, sebagai jalur lalu lintas antar Pulau di Maluki atau tujuan lain pengiriman rempah- rempah. Dari tepi pantai atau dari jauh benteng Beverwijk terlihat masih kokoh berdiri.

Benteng ini sarat nilai sejarah. Dimana pada tanggal 16 November 1817, setelah tertangkap oleh tentara Belanda di Negeri Ouw, Kapitan Paulus Tiahahu dan putrinya Martha Christina Tiahahu dan beberapa pejuang lainnya di bawa ke Pulau Nusa Laut dan di tempatkan di Benteng Beverwijk.

Dan pada keesokan harinya, yaitu pada tanggal 17 November 1817. Pasukan Belanda mengeksekusi mati Kapitan Paulus Tiahahu di depan mata putrinya Martha Christina Tiahahu yang setia mendampingi berjuang melawan kolonial, termasuk mendukung perjuangan Kapitan pattimura.

Martha kemudian diasingkan ke Pulau Jawa. Namun gadis 17 tahun tersebut melakukan perlawanan dengan mogok makan dan memilih menceburkan diri ke tengah laut pada saat perjalanan dengan kapal laut, pada tanggal 2 Januari 1818. Monumen mengenang heroiknya Martha dibangun di Negeri Abubu, tempat kelahirannya. Selain di Pulau Ambon :

Kembali ke Benteng Beverwijk, menurut catatan, sejak tahun 1883 kolonial Belanda tidak lagi menggunakan benteng tersebut, baik untuk gudang rempah-rempah maupun untuk tawanan perang. Tapi guide maupun penjaga benteng tidak dapat menjelaskan alasan sesungguhnya, kenapa Belanda meninggalkan Benteng yang lokasinya strategis di tepi laut tersebut.

‘Mbak, ayo balik ke speed boat sudah hampir jam tiga ini, jangan sampai kita semalaman di laut!’

Seruan guide yang benar tapi terasa mengganggu saya yang masih ingin lebih lama menikmati matahari kembar yang tiba tiba terasa sejuk di Negeri Sila Pulau Nusa Laut.

Advertisements

33 Comments

  1. Selalu deh kalo Mbak Tuty cerita keindahan alam, pasti diselipin cerita sejarahnya juga. Bukan cuma menikmati keindahan alamnya tapi juga belajar sejarahnya, aaahhh suka deh aku sama tulisannya. Sekali-kali diselipin foto Mbak Tuty juga dong, Mbak hehe

    Liked by 1 person

    1. Kak Antin terimakasih ya untuk sarannya sehingga tulisan ini bisa di comment. Pengen buanget ngetrip bareng Kak Antin, plus diajarin gimana nulis yang runut dan asik dibaca seperti tulisan 2 kak Antin

      Like

  2. Tulisan Kak Tuty tentang Kepulauan Maluku selalu menggugah saya untuk mendatangi tempat ini, tapi apa daya belum kesampaian. Kehangatan warga lokal, situs2 sejarah yang menarik, keindahan pantainya seolah jadi 1 paket komplit. Thanks Kak sharing ceritanya! Nggak sabar baca tulisan kk tentang bagian lain dari Kepulauan Maluku.

    Like

  3. Hai kak tuty, mau kasih saran aja. Kakak masuk KF juga kan ya, mungkin foto-foto yang dilampirkan di blog bisa ditouchup dulu sebelum diunggah. Cuma saran aja.

    Entah kenapa sampai saat ini masih belum tertarik untuk ke daerah timur indonesia karena biayanya sama seperti melakukan perjalanan ke bangkok atau KL. Tapi lombok dan sekitarnya sudah masuk dalam wishlist tahun depan. Mungkin ini bisa dijadikan referensi liburan. Terimakasih kak infonya.

    Like

  4. Eben Haezer,nama gereja ini bagus, artinya secara harfiah batu pertolongan. Ada dalam kitab 1 Samuel 7:12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu b dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, c katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.”
    Sekedar berbagi arti dari eben haezer.
    Thanks untuk sharing jalan-jalannya.
    https://helloinez.com

    Liked by 1 person

  5. Karena tulisan kak tuty saya jadi cari tau tentang Martha Christina Tiahahu. Sebenernya saya pernah ke monumennya yang di Ambon.. tapi saya lupa namanya.. itu monumen kece sekali karena ada diatas bukit.. jadi dari atas monumen bisa kelihatan laut..
    Ngomong2 tentang Martha Christina Tiahahu ternyata dia meninggal di usia yang sangat muda.. *ketauan jaman pelajaran sejarah tidur mulu 😁😁

    Like

  6. Baru sempet baca euy. Malu aku. Maluku tuh sebelah timur udah pasti pantainya kece badai. Udah tampak dr foto2 kakak. PASTI ada sejarahnya juga. Jadi paket lengkap baca tulisan ini. Menunggu penggalan pengalaman kaka yang lain. 😍

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s